Kemeriahan pertandingan sepak bola di Indonesia sering kali diwarnai oleh berbagai bentuk ekspresi fanatisme dari para suporter, salah satunya adalah dengan menyalakan flare di tribun stadion. Cek update berita terkini juga melalui artikel insanupdate, khususnya para pecinta sepak bola.
Pada insiden terbaru yang terjadi di Stadion Maguwoharjo, flare menyala selama beberapa menit di tengah padatnya kerumunan penonton. Aksi ini memicu keresahan, bukan hanya karena asap yang mengepul tebal dan mengganggu pernapasan, tetapi juga karena adanya risiko kebakaran yang tidak main-main. Flare yang menyala dengan suhu tinggi sangat berbahaya apabila menyentuh benda yang mudah terbakar. Dalam situasi seperti ini, penting bagi masyarakat juga memahami cara menangani kebakaran listrik di rumah, karena kebakaran yang bersumber dari flare bisa sangat sulit dikendalikan tanpa pengetahuan dasar penanggulangan.
Apa Itu Flare dan Mengapa Sering Digunakan Supporter Sepak Bola?

Flare adalah alat piroteknik yang dirancang untuk menghasilkan cahaya terang dan asap tebal dalam waktu singkat. Pada awalnya, flare digunakan untuk keperluan maritim dan militer sebagai alat sinyal darurat. Namun, dalam perkembangan budaya suporter sepak bola, flare kemudian diadaptasi sebagai simbol semangat, identitas kelompok, serta bentuk protes atau selebrasi yang dramatis. Flare bekerja dengan membakar bahan kimia seperti magnesium, kalium nitrat, dan sulfur pada suhu yang bisa mencapai lebih dari 1000 derajat Celsius.
Flare di pertandingan yang dinyalakan di tengah kerumunan penonton jelas bukan tindakan yang aman. Kombinasi antara bahan kimia beracun dan suhu tinggi tersebut bisa menyebabkan luka bakar, sesak napas, dan bahkan kebakaran besar. Tidak sedikit pula kasus di mana flare dilemparkan ke arah lapangan atau tribun lawan, memperbesar potensi konflik dan eskalasi situasi.
Alasan Psikologis Penggunaan Flare oleh Suporter
Banyak suporter merasa bahwa flare merupakan ekspresi puncak dari loyalitas terhadap klub yang mereka dukung. Dalam bayangan mereka, stadion yang dipenuhi asap warna-warni menciptakan atmosfer magis yang mampu memberikan intimidasi kepada lawan sekaligus membakar semangat tim kesayangan.
Sayangnya, persepsi tersebut justru menormalisasi tindakan berbahaya. Flare dipandang sebagai simbol keberanian, padahal faktanya, penggunaannya justru mencerminkan ketidakpedulian terhadap keselamatan bersama.
Bahaya Nyata dari Flare di Stadion
Risiko Fisik Langsung
Flare bukan hanya benda yang menyala indah. Suhu panas yang dihasilkan oleh flare dapat menyebabkan luka bakar serius apabila terkena kulit atau pakaian penonton. Tidak hanya itu, flare yang digunakan di area tertutup atau semi-tertutup seperti stadion akan menghasilkan asap tebal yang mengandung zat kimia beracun. Paparan asap tersebut dalam jangka pendek bisa menyebabkan iritasi mata dan gangguan pernapasan, sedangkan paparan jangka panjang berisiko merusak saluran pernapasan.
Potensi Kebakaran Massal
Stadion sepak bola adalah tempat berkumpulnya ribuan orang dalam satu waktu, sering kali dalam kondisi yang sangat padat. Banyak material yang berada di sekitar tribun, seperti kursi plastik, spanduk kain, dan pakaian penonton, merupakan bahan yang sangat mudah terbakar. Apabila flare menyentuh salah satu dari benda tersebut, maka api dapat menyebar dalam hitungan detik. Situasi ini sangat sulit dikendalikan, terutama jika tidak tersedia alat pemadam kebakaran yang memadai atau petugas keamanan tidak sigap.
Kasus-Kasus Flare yang Pernah Terjadi
Stadion Maguwoharjo, Sleman
Pada beberapa pertandingan penting yang digelar di Stadion Maguwoharjo, flare sempat dinyalakan oleh oknum suporter yang tidak bertanggung jawab. Meskipun sistem pemeriksaan sudah diterapkan di pintu masuk, masih saja ditemukan celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyelundupkan flare. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan yang ketat harus dibarengi dengan kesadaran dari suporter itu sendiri akan bahaya penggunaan flare.
Kasus Internasional: Heysel dan lainnya
Tragedi di Stadion Heysel pada tahun 1985 memang tidak secara langsung disebabkan oleh flare. Namun, peristiwa tersebut menunjukkan betapa cepatnya sebuah kericuhan di stadion dapat berubah menjadi bencana yang merenggut nyawa. Di era modern, beberapa klub besar Eropa seperti AS Roma dan Galatasaray pernah menerima sanksi dari UEFA akibat aksi flare yang dilakukan oleh suporternya. Dalam beberapa kasus, denda hingga miliaran rupiah dijatuhkan dan pertandingan berikutnya harus digelar tanpa penonton sebagai bentuk hukuman.
Inovasi Alternatif Pengganti Flare
LED Torch dan Smoke Machine
Beberapa stadion modern mulai mengganti flare dengan alat pencahayaan LED dan mesin asap berbasis air yang jauh lebih aman. Peralatan ini menghasilkan efek visual serupa tanpa menimbulkan risiko kebakaran atau gangguan kesehatan. Klub-klub di Eropa Timur telah membuktikan bahwa atmosfer stadion tetap bisa terjaga tanpa flare.
Visual Show dan Koreografi Penonton
Selain itu, koreografi kreatif seperti TIFO, banner LED, hingga pertunjukan laser semakin populer di kalangan suporter profesional. Pendekatan ini tidak hanya aman, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kekompakan komunitas suporter. Bahkan, beberapa koreografi berhasil menjadi viral di media sosial dan memperkuat citra positif klub.
